Selasa, 15 Januari 2013

Kirim Pesan Langsung ke Zuckerberg, Bayar US$100

Layanan ini akan menjadi sumber penghasilan baru bagi Facebook.

Kirim pesan ke Mark Zuckerberg bayar US$100 


VIVAnews - Ingin berkirim pesan ke artis atau selebritis idola langsung di Facebook? Maka anda harus rela merogoh kocek dalam-dalam. Pasalnya, Facebook akan menerapkan bayaran bagi mereka yang ingin berkirim pesan pada orang yang tidak termasuk dalam jaringan pertemanan.

Salah satu contohnya adalah mengirim pesan ke Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Biasanya, jika seseorang di luar jaringan pertemanannya ingin mengiriminya pesan, maka akan masuk ke "mailbox" yang lain, yang belum tentu akan dibalas atau sekedar dibaca.

Namun Desember tahun lalu, Facebook mengatakan akan mulai menerapkan berkirim pesan berbayar. Jadi jika ada siapapun yang ingin menghubungi Zuckerberg, maka akan langsung masuk ke inbox pribadinya.
Namun untuk menikmati layanan ini, para pemilik akun akan dikenakan biaya. Awalnya, Facebook belum akan mengumumkan berapa jumlah bayaran tersebut.
Situs Mashable akhirnya mencari tahu dan menemukan bahwa untuk menyurati Zuckerberg, Facebook mematok harga US$100 atau sekitar Rp972 ribu.

Harga yang sama juga berlaku untuk bersurat ke COO Facebook Sheryl Sandburg, CFO David Ebersman, dan beberapa petinggi laman media sosial ini. "Kami tengah menguji harga tertinggi untuk melihat kerja sistem pemfilteran spam," kata perwakilan Facebook dilansir CNNMoney.

Surat berbayar ini akan menjadi salah satu sumber pemasukan Facebook ke depannya. Sebelumnya, kebanyakan penghasilan Facebook berasal dari iklan. Nanti, pemasukan Facebook akan diambil langsung dari satu miliar anggotanya yang ingin menyapa selebritis. (adi)

sumber :  http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/381610-kirim-pesan-langsung-ke-zuckerberg--bayar-us-100

Apple iPhone 5 Kurang Laris?

Pemesanan layar iPhone 5 yang dipangkas menjadi indikator kuat.

iPhone 5 Iphone 5

VIVAnews - Apple dilaporkan telah membatalkan pemesanan piranti keras untuk iPhone. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa penjualan smartphone teranyar buatan vendor Mac itu tidak sesuai harapan perusahaan.

Dikutip dari US Web Daily, Senin 14 Januari 2013, Apple telah meminta Japan Display Inc, Sharp Corp, dan LG Display Co Ltd, untuk memotong jumlah pesanan hingga setengahnya. Seperti diketahui, iPhone 5 menggunakan layar LCD LED-backlit berteknologi IPS (In Plane Switching).

Ketiga perusahaan ini adalah pemasok utama layar iPhone 5 bagi Apple. Awalnya, pada Maret mendatang, Apple telah memesan sekitar 65 juta unit layar yang dibagi ke ketiga perusahaan tersebut.

Sebelumnya, Apple mematok target penjualan iPhone 5 hingga 48 juta unit pada kuartal akhir tahun ini. Jika berhasil, itu akan menjadi pencapaian luar biasa iPhone sepanjang sejarah. Tapi, apakah target itu bisa tercapai sementara pemesanan layar dipangkas besar-besaran?

Kini, jumlah pesanan layar iPhone 5 tersisa 32,2 juta unit. Sampai kini masih belum jelas apa yang menjadi alasan perusahaan komputer asal Cupertino-California itu. Namun, Wall Street Journal dan Nikkei telah mensinyalir penjualan iPhone 5 yang lemah yang melatarbelakanginya.

Berita ini pun berdampak cukup besar bagi Apple. Harga saham Apple dilaporkan turun hingga menyentuh angka 502,60 dollar AS, hanya beberapa jam sebelum sesi perdagangan dimulai di bursa New York, kemarin. Padahal, pada penutupan bursa hari Jumat lalu, saham Apple ditutup di harga 520,30 dollar AS. (eh)

sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/382286-apple-iphone-5-kurang-laris-

Red October, Virus Pencuri Data Pemerintah

Virus spionase ini ternyata telah beroperasi selama lima tahun.

Gambar ilustrasi

VIVAnews - Perusahaan keamanan online Kaspersky lab berhasil mengidentifikasi sebuah virus yang ditanam untuk tujuan spionase. Virus yang mampu menginfeksi berbagai gadget ini ternyata telah beroperasi selama lima tahun.

Diberitakan CBS News, Selasa 15 Januari 2013, virus yang bernama "Red October" atau disingkat "Rocra" adalah piranti lunak berbahaya (malware) yang mampu mencuri informasi dari target dan secara aktif mengirimkannya ke beberapa server command and control. Server ini merupakan pusat data yang dapat mengatur komputer yang menjalankan malware.

Laporan Kaspersky mengatakan, bentuk Rocra mirip dengan malware Flame yang menyerang jaringan komputer Iran tahun lalu. "Ini adalah kerjaan profesional kampanye spionase siber selama beberapa tahun," kata Kurt Baumgartner, peneliti keamanan senior di Kaspersky Labs.

Malware Red October memiliki beberapa karakteristik unik. Salah satu temuan yang paling mengejutkan, kata Baumgartner, target virus ini ditentukan oleh geopolitik, seperti instansi pemerintah, kedutaan besar, pusat penelitian nuklir dan militer.

Salah satu fungsi unik malware ini yaitu dapat menyalakan mesin yang terinfeksi dengan melekatkan sebuah plug-in ke dalam piranti lunak seperti Adobe Reader atau Microsoft Office. Bahkan jika malware ini coba dihapus, para peretas masih dapat mengakses komputer sasaran.

Malware ini menyerang tidak terbatas pada komputer tradisional. Perangkat mobile seperti Windows Phone, iPhone dan ponsel Nokia, menurut laporan ini, juga beresiko.

Kaspersky telah mengamati 60 domain dan mampu merekam dan mencatat enam yang disebut domian "sinkhole". Perusahaan ini juga mengamati puluhan ribu komunikasi berbahaya yang berasal dari ratusan domain. Perusahaan ini memperkirakan jumlahnya dapat mencapai jika.

Pengirim virus ini diprediksi telah bekerja sejak tahun 2007. Targetnya sebagian besar adalah negara-negara Eropa Timur, beberapa laporan serangan juga terjadi di Amerika Utara, Swiss dan Luksemburg.
Kaspersky mensinyalir virus ini diciptakan oleh peretas China dan modul malware dibuat dalam bahasa Rusia. "Kami tidak mengatakan mereka adalah hacker Rusia, tetapi para pengembang berasal dari negara berbahasa Rusia," kata Baumgartner. (sj)
 
 sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/382369-red-october--virus-pencuri-data-pemerintah